Sedikit komentar tentang PDAM di Bandar Lampung khususnya di daerah Way Halim. Pada kenyataan sebagai pelayan masyarakat khususnya untuk pemenuhan kebutuhan air bersih PDAM sebagai perusahaan negara tidak atau kurang mempunyai fungsi yang optimal. Setiap bulan rumah saya membayar air kepada PDAM sebesar Rp.4000 dengan perincian Rp 2500 untuk biaya pemeliharaan dan Rp 1500 untuk biaya administrasi. Sehingga selama ini saya membayar air hanya untuk biaya operasional dan administrasi saja.
Saya sudah lama tidak menggunakan jasa PDAM sebagai penyalur air bersih karena sejak beberapa tahun kebelakang ini air darinPDAM sangat jarang sekali keluar, hanya saat-saat tertentu saja air dari PDAM tersebut keluar, itupun kebanyakan pada saat malam hari atau dini hari. Belum lagi masalah penyedotan air PDAM dengan menggunakan pompa air oleh masyarakat sekitar. Sehingga air yang disalurkan dari PDAM tersebut bila sampai pada bagian rumah saya sangat kecil alirannya, hal ini akibat penyedotan air tersebut. Oleh sebab itu saya lebih memilih menggunakan air sumur saja sebagai pemenuhan kebutuhan air sehari-hari, dan untuk kebutuhan memasak dan minum biasanya saya membeli air bersih yang telah siap untuk diminum.
Pemenuhan kebutuhan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari sangatlah penting. Untuk itu sebagai perusahaan negara yang bergerak dalam penyediaan air bersih, PDAM seharusnya menunjukkan kinerjanya dan sebisa mungkin untuk tidak mengecewakan pelanggannya. (pertama kali di publikasikan di www.pintunet.com)
Selengkapnya...
Penyediaan Air Selalu Menjadi Masalah
Label: air, bandar lampung, masalah, PDAM, pelangga, penyediaan
Diposting oleh Kang Boim di Senin, Mei 19, 2008 5 komentar
KISAH KLASIK
KISAH KLASIK
Dalam sebuah kotak ku termenung mencari tau gelisah dihati ini, mengapa hidup seakan membingungkan. Apa yang ku cari, apa yang
Tiba-tiba setetes hujan mengampiri panasnya dunia yang telah sejak tadi dipanaskan oleh sang matahari. Suasana yang sunyi kembali membawaku kedalam dunia khayal. Tak terasa waktu yang kejam telah berlari meninggalkan ku dalam kesendirian, kesendirian yang tak pernah kuketahui kapan akan berakhir. Kulangkah kakiku memasuki sebuah ruangan sunyi, sesunyi diriku. Kuhibur diriku dengan sebuah lagu yang perlahan mendayu mengisi keheningan jiwa ini.
Kurebahkan diri ini dengan tak lupa kunyalakan sebatan rokok. Kulihat sekeliling ruangan itu, yang seakan ingin menceritakan rahasia mereka, tapi siapa yang akan mendengarkan ku saat kubutuhkan seorang teman. Suasana ruangan yang seakan menyesakkan dan meruntuhkan puing-puing keyakinan selama ini terus membayangi dan menghantui setiap langkah ku. Semakin kisah ini kutulis semakin kuterjatuh dalam kebingungan, kebingungan yang abadi. Baru beberapa menit yang lalu kulupakan semua masalah ini, namun ia terus menghampiriku, selalu mengingatkan ku kembali kepada sebuah ketakutan yang tak pernah kumengerti.
By herbowo sampurno
Label: abadi, cerpen, fiksi, galau, gelisah, kisah, klasik, masalah, renungan, seri ngobrolin karya sastra, sunyi
Diposting oleh Kang Boim di Rabu, Maret 26, 2008 2 komentar