Custom Search

pahlawan tanpa tanda jasa

Label yang selama ini di sematkan pada guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”, seakan tak akan pernah hilang, mereka bekerja dengan upah seadanya yang diberikan oleh pemerintah guna menjalankan tugas mulianya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. karena pendapatannya sebagai guru honorer yang hanya sebesar 460 ribu rupiah/bulan hanya habis untuk tranport saja. Ujar ani kusrini, spd, salah satu guru honorer di SMPN 25 Bekasi Harapan Jaya Bekasi, yang telah mengabdi selama 11 tahun (Sumber data: ge mozaik, 20.11.2005).

Profesi guru adalah salah satu profesi yang sangat mulia dan bermartabat namun disisi lain kesejahteraan guru masih sangat memprihatinkan. Guru honor yang hingga puluhan tahun mengabdi menjadi guru, hingga kini masih belum jelas statusnya. Penantian mereka untuk hanya satu, yaitu sebuah status yang jelas sebagai pegawai negeri sipil (PNS) yang ntah kapan akan mereka peroleh, hingga akhirnya usianya tidak memenuhi syarat lagi untuk diangkat menjadi PNS. Mereka tidak diangkat karena tidak memenuhi syarat atau karena korban permainan kotor penjahat kepegawaian atau aparat di daerah yang mementingkan uang untuk memperkaya atau yang menguntungkan diri sendiri (tidak heran, karena mereka diangkat PNS juga karena sejumlah uang).

hal ini sangat kontradiksi apabila kita mendengar pernyataan dari Mendiknas Bambang Sudibyo, yang mengatakan "Kalau mau jujur, sebenarnya jumlah guru yang ada saat ini masih kurang. Karena jumlah guru yang ada itupun sebagian masih berstatus sebagai guru tidak tetap dengan honor relatif rendah," katanya. (Selasa, 5 Juli 2005, Suara Karya Online).

Dari data yang diperoleh LKBN ANTARA diketahui bahwa dibutuhkan guru bantu untuk memenuhi tenaga guru di berbagai daerah di tanah air pada awal tahun 2003 yaitu sekitar 427.000 guru, untuk menutupi kekurangan tenaga pendidik tersebut pemerintah mengangkat sekitar 192.000 guru Bantu diseluruh indonesia. Dan pada tahun 2004 ada pengangkatan PNS dengan formasi 204 ribu yang dibutuhkan termasuk diantaranya tenaga pendidik dan waktu itu yang mendaftar 4,5 juta orang. Dalam pendaftaran itu ada 1,2 juta yang mendaftar menjadi tenaga pendidik dengan formasi 60 ribu, tetapi guru bantu yang mendaftarkan dan yang diterima hanya 25 ribu. Sebenarnya pemerintahlah yang selama ini membutuhkan tenaga-tenaga dan pemikiran mereka sebagai seorang pendidik, tapi pada kenyataannya mereka akan tetap menjadi "pahlwan tanpa jasa" yang tidak dihargai perjuangannya untuk mencerdaskan anak bangsa di negeri ini.

6 komentar:

Mike.... mengatakan...

setuju!!!!mari kita tuntut kesejahteraan para guru!!!

aprie mengatakan...

hah..jumlah guru kurang?
ya iyalah kurang, wong gajix aja juga kurang..
kalo mo punya stok guru, ya gajix dibanyakin...jangan dikorup dunk!!
*loh koq malah ngomel di sini...:D

dHaNie mengatakan...

Di negara kita nasib guru emang tidak sebaik nasib cikgu di malaysia, di malaysia guru sangat di prioritaskan oleh pemerintah karena guru merupakan ujung tombak dari keberhasilan dalam menjalankan pemerintah

Lyla mengatakan...

harusnya gaji guru itu lebih tinggi dari gaji PNS yang suka kabur-kaburan kalo kerja *ikut kabuuuurrr*

yoga permana kusumah mengatakan...

setubuh...eh setuju

Panda mengatakan...

jadi inget sama guru SD-ku mas..